<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760459828676510215</id><updated>2011-08-02T03:58:51.804+07:00</updated><title type='text'>Kuatkan Ilmu Dengan Tulisanmu</title><subtitle type='html'>‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan dia mempunyai dosa-dosa seperti gunung Tihamah, akan tetapi apabila dia mendengar ilmu (yaitu mempelajari ilmu dengan menghadiri majelis ilmu), kemudian dia menjadi takut, kembali kepada Rabbnya dan bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak mempunyai dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkan majelisnya para ulama.”
(Miftaah Daaris Sa’aadah 1/77)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abqowy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abqowy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tak Ada yang Lebih Baik Di Balik Gulita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760459828676510215.post-4706220198226885259</id><published>2010-01-22T01:33:00.015+07:00</published><updated>2010-02-08T21:49:56.450+07:00</updated><title type='text'>Awal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S3AkMD-9KiI/AAAAAAAACwY/sFp0maVYzDE/s1600-h/ilmu+nur.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 241px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S3AkMD-9KiI/AAAAAAAACwY/sFp0maVYzDE/s400/ilmu+nur.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435884539882580514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam Cahaya Ilmu dan Tauhid Para Salaf&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar umat Islam sekarang ini hatinya merasa takut dan gemetar melihat kemajuan dan kecanggihan teknologi yang dimiliki orang kafir. Gentar akan kehebatan dan kejeniusan mereka dalam hal IPTEK. Memang betapa silau rasanya mata kita melihat gemerlap kemajuan mereka, dan hal itu seringkali menggelitik sebagian di antara kita untuk jatuh bangun berlari mengejar “ketertinggalan” kita dari mereka. Maka berlomba-lomba kita belajar ilmu teknologi, kedokteran, kesehatan, pertanian, siang dan malam. Sayangnya, banyak yang jadi berlebih-lebihan dan beranggapan bahwa kemuliaan Islam akan diraih dengan menguasai ilmu-ilmu tersebut. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kemuliaan itu memang tidak akan dapat tercapai tanpa ilmu. Namun ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i, sebab hakikat kemuliaan sejati adalah menurut pandangan Allah Ta’ala. Maka siapakah orang yang mulia dalam pandangan Allah? Orang yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah orang yang berilmu dan dengan ilmunya tersebut ia beriman serta bertaqwa pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujaadalah: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman Allah Ta’ala yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tinggikan derajat orang-orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf: 76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Malik ar-Ramadhani menukilkan perkataan Imam Malik rahimahullah tentang ayat ini dalam kitabnya Sittu Duror: “Maksudnya, (Kami tinggikan derajat mereka) dengan ilmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani masih dalam kitab yang sama menceritakan sebuah hadist dari ‘Amir bin Watsilah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan. Dan ‘Umar waktu itu mengangkatnya menjadi gubernur Makkah. ‘Umar lalu bertanya: “Siapakah yang engkau tugaskan sebagai wakilmu untuk mengawasi penduduk Wadi (Makkah)?” “Ibnu Abzi.” Jawab Nafi’. “Siapakah Ibnu Abzi itu?” ‘Umar bertanya. Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang budak kami yang telah dimerdekakan.” ‘Umar bertanya, “Apakah engkau menjadikan seorang mantan budak menjadi pemimpin mereka?” Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal kitabullah dan seorang alim dalam ilmu pembagian harta waris.” Lalu ‘Umar berkata, “Ketahuilah bahwa Nabi kalian telah bersabda ‘Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (Al-Qur’an) beberapa golongan dan dengannya pula Dia merendahkan yang lainnya.’” (diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya (816) serta Ibnu Majah (218))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Ketahuilah bahwa tidak ada illah yang haq disembah melainkan Allah, maka mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Bukhari menjadikan ayat ini pada salah satu bab dalam kitab Shahih-nya. Beliau berkata “Bab Ilmu sebelum berkata dan berbuat”, kemudian beliau mengomentari ayat tersebut: “Maka Alloh Jalla Jalaluhu telah memulai dengan ilmu sebelum berucap dan beramal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani rahimahullah juga telah menukilkan sebuah perkataan yang indah dari Al-’Alamah Ibnul Qayyim Al-Jauziah rahimahullah dalam kitabnya Sittu Duror:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemuliaan ilmu itu tergantung pada apa yang dibahas, dan tidak ragu lagi bahwa ilmu yang paling mulia dan paling agung adalah ilmu bahwa Allah adalah Dzat yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia Rabbul ‘Alamin, yang menegakkan langit-langit dan bumi, Raja yang haq dan nyata, yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan jauh dari segala cacat dan kekurangan serta dari segala penyamaan dan penyerupaan dalan kesempurnaan-Nya. Juga tidak ragu lagi bahwa ilmu tentang Allah, tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling mulia dan agung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan beliau tersebut menyiratkan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang tauhid, sebagaimana perkataan beliau selanjutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ilmu tentang Allah merupakan pokok serta dasar pijakan semua ilmu. Bararangsiapa mengenal Allah, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang tidak mengenal Rabb-Nya, terhadap yang lain dia lebih tidak mengenal lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ilmu tentang tauhid begitu penting kedudukannya menurut pandangan para ulama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Adullah bin Baz mengatakan dalam kitabnya Al-Ilmu wa Akhlaaqu Ahlih (edisi Indonesia: Ilmu dan Akhlak Ahli Ilmu):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah tujuan berilmu itu agar engkau menjadi seorang ‘alim atau agar engkau diberi ijazah yang diakui dalam suatu bidang ilmu. Namun tujuan di belakang semua itu adalah supaya engkau beramal dengan ilmu yang engkau miliki, agar engkau mengarahkan manusia kepada kebaikan. Beliau menyebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dengan ilmu-lah seseorang sampai pada pengetahuan tentang kewajiban yang paling utama dan paling agung, yaitu men-tauhid-kan Allah dan mengikhlaskan ibadah untuk-Nya. Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa Islam didirikan atas lima dasar yang disebut rukun Islam, dan dasar yang pertama adalah syahadah Laa Ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang haq selain Allah) yang melahirkan konsekuensi bagi yang mengucapkannya untuk beriman pada Allah dan hanya beribadah kepada-Nya. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang artinya: “Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq selain daripada-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya).” (QS. Al-Mukminuun: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribadah kepada Allah adalah tujuan utama hidup manusia di dunia ini, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan, Aku tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariat: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beribadah terdapat dua syarat agar amal ibadah diterima, yaitu ikhlas dan sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang tidak memiliki ilmu tidak akan mengetahui bagaimana caranya ikhlas dan bagaimana beribadah sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Betapa banyak ahli ibadah yang terjerumus dalam bid’ah karena berlebih-lebihan dalam beribadah dengan menambah atau mengurangi ibadahnya padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Abu Daud, dan At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan realita bahwa sebagian umat Islam banyak yang terjerumus dalam kesyirikan. Apa yang menyebabkan terjadinya hal itu? Tidak lain adalah karena mereka tidak mengetahui mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, mana yang tauhid dan mana yang syirik, dan semua itu tidak akan diketahui kecuali dengan belajar ilmu syar’i. Ilmu akan menunjukkan bagaimana tata cara ibadah yang benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta menunjukkan pada pemahaman tauhid yang bersih dari syirik sebagaimana jalannya Rasulullah dan para shahabat sebagai sebaik-baik salaf bagi kita. Sesungguhnya kejayaan umat Islam akan dapat diraih dengan menjalankan agama ini, dan hal itu hanya akan diraih dengan ilmu syar’i. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani&lt;br /&gt;Ilmu dan Akhlak Ahli Ilmu karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Penulis: Ummu Asma’ Muraja’ah: Ustadz Abu Sa’ad Artikel www.muslimah.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasehat Syaikh Muqbil Kepada Penuntut Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang mengajakmu untuk berwala’ kepada kelompok tertentu dan menolak kelompok semua kelompok lainnya, tuntutlah dia menghadirkan dalil, kalau dia katakan kepadamu “ "Sesungguhnya tangan Allah Ta'ala beserta jama’ah", maka katakan kepadanya: Yang dimaksud dengan kalimat itu adalah jama’ah kaum muslimin, mereka adalah pengikut kebenaran dari jama’ah manapun dan dari negeri manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dia katakan padamu : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapa yang mati sedangkan tidak ada di kuduknya bai’at, maka dia mati dengan kematian jahiliyah (Shahih. HR Muslim, No. 3441)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan kepadanya: Itu adalah pembai’atan terhadap imam syar’i, tidakkah engkau melihat di dalam hadist Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu Anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;”Lalu apabila mereka tidak mempunyai jama’ah dan tidak juga seorang imam, maka tinggalkanlah kelompok-kelompok itu semuanya (Shahih. HR. Bukhori No. 3338, 6557, Muslim 3434)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanyakan : Apakah kalian mengharamkan banyaknya kelompok?&lt;br /&gt;Kami jawab : Yang kami larang ialah apa yang dilarang oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, yaitu perpecahan yang terlarang. Adapun kaum muslimin menjadi ummat yang satu dibawah kepemimpinan seorang imam, maka inilah yang kami perjuangkan. Allah Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku Rabbmu, maka sembahlah Aku” (Al-Anbiyaa’ (92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari : Mutiara Nasehat Syaikh Muqbil Bin Haadi Al-Wadi’i Kepada Para Penuntut Ilmu Dan Salafiyyin, Hal. 103-104&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe title="abqowy" src="http://www6.shoutmix.com/?abqowy" width="" height="" frameborder="0" scrolling="auto"&gt;&lt;a href="http://www6.shoutmix.com/?abqowy"&gt;View shoutbox&lt;/a&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.shoutmix.com/" title="Get your own free shoutbox chat widget at ShoutMix!"&gt;ShoutMix chat widget&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760459828676510215-4706220198226885259?l=abqowy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abqowy.blogspot.com/feeds/4706220198226885259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760459828676510215&amp;postID=4706220198226885259&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default/4706220198226885259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default/4706220198226885259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abqowy.blogspot.com/2010/01/awal-halaman.html' title='Awal'/><author><name>Tak Ada yang Lebih Baik Di Balik Gulita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S3AkMD-9KiI/AAAAAAAACwY/sFp0maVYzDE/s72-c/ilmu+nur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760459828676510215.post-1427985873563429019</id><published>2010-01-22T01:31:00.049+07:00</published><updated>2010-02-16T23:02:18.074+07:00</updated><title type='text'>Info</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_korR8Bn1CmY/S3oisOPuRlI/AAAAAAAACFE/j0mprjWsfOE/s1600-h/Kaj+LBA+k.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_korR8Bn1CmY/S3oisOPuRlI/AAAAAAAACFE/j0mprjWsfOE/s320/Kaj+LBA+k.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438697643136927314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu adalah cahaya yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Tidak diragukan lagi kedudukan orang yang berilmu disisi Allah adalah lebih tinggi beberapa derajat. Hanya orang-orang yang berilmu &amp; berakal lah manusia dapat memahami kebesaran Allah melalui penciptaan alam semesta beserta segala isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian mulia kedudukan orang yang berilmu sehingga Rasulullah meriwayatkan dalam sebuah hadist :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu maka Allah mudahkan jalannya menuju syurga. Sesungguhnya malaikat akan membuka sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar, tidak juga dirham, Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yangmengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telahmendapatkan bagian yang paling banyak.1&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Siapa sich orang yang ga mau di doakan oleh malaikat dan makhluk-makhluk Allah yang ada di bumi?? Sungguh hal tersebut adalah suatu kemuliaan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata pepatah “No pain, no gain” (tidak ada yang akan kita dapatkan tanpa pengorbanan), maka untuk mencapai kemuliaan yang bernama ilmu itu pasti ada tantangan yang harus kita hadapi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menghalangi sampainya kemuliaan ilmu kepada seseorang :&lt;br /&gt;Niat yang rusak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat adalah dasar dan rukun amal. Apabila niat itu rusak maka rusaklah seluruh amalannya. Sebagaimana sabda Rasulullah “Amal itu tergantug niatnya, dan seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkan…”2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik bin Dinar (wafat th.130 H) rahimahullah mengatakan,”Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah Ta’ala maka ilmu itu akan menolaknya hingga ia dicari hanya karena Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ingin Terkenal dan Ingin Tampil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita ingat mungkin terkadang saat kita belajar terbersit di hati kita “Supaya jadi rangking 1 atau jadi juara umum dan dikenal orang?? Ya, ingin terkenal dan ingin tampil adalah penyakit kronik. Tidak seorang pun yang bisa selamat darinya kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhana Wa Ta’ala. Hal itu lebih dikeal dengan sebutan riya. Rasulullah sangat mengkhawatirkan adanya penykit ini pada umatnya. Karena seringkali penyakit itu halus hingga muncul tanpa kita sadari, hingga Rasulullah mengibaratkan bahwa penyakit riya itu seperti semut hitam, di batu hitam pada malam yang gelap. Nah lho, bayangin hampir ga keliatan khan?? So, be careful…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda,”….sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah kesyirikan dan syahwat tersembunyi.”3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud bin Ar-Rabi berkata : “syahwat yang tersembunyi maksudnya adalah seseorang ingin / senang apabila kebaikannya dipuji oleh orang lain. Hendaknya kita behati-hati terhadap penyakit ini, karena Allah memperingatkan dalam sebuah hadist yang diampaikan oleh Rasulullah Salallahu’alaihi Wassallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menyiarkan amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya. Dan banrangsiapa yang beramal karena riya maka Allah akanmembuka niatnya di hadapan manusia pada hari kiamat.”4 Naudzubillahi mindzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lalai Menghadiri Majelis Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tidak memanfaatkan majelis ilmu yang dibentuk dan pelajaran yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan. Kalau kebaikan yang ada di majelis ilmu hanya berupa ketenangan dan rahmat Allah yang meliputi mereka, maka dua alasan itu saja seharusnya sudah cukup sebagai pendorong untuk menghadirinya. Apalagi jika seseorang mengetahui bahwa orang yang menghadiri majelis ilmu –insyaAllah- mendapatkan dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat??!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Beralasan dengan banyaknya kesibukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ini sewringkali dijadikan syaitan sebagai alasan menjadi penghalang dalam menuntut ilmu. Coba dihitung, Allah memberikan kita 24 jam, 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk istirahat, masih sisa 8 jam lagi… apa yang selama ini telah kita lakukan untuk memanfaatkan sisa waktu itu???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menyia-nyiakan kesempatan belajar di waktu kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman : ”Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya kematian.” (QS.Al-Hijr : 99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mari kita semua para remaja, maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, kita bertaubat pada Allah Ta’ala atas apa yang telah luput dan berlalu. Sekarang, kita mulai menuntut ilmu, menghadiri majelis ta’lim, belajar dengan benar dan sungguh-sungguh dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya pada Imam Ahmad, ”Sampai kapankah seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau pun menjawab ”sampai meninggal dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Bosan dalam menuntut ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara penghalang menuntut ilmu adalah merasa bosan dan beralasan dengan berkonsentrasi mengikuti peristiwa yang sedang terjadi. Ilmu yang kita cari seharusnya mendorong kita untuk mengetahui keadaan kita sendiri. Kita tidak akan bisa mengatasi berbagai masalah dan musibah yang menimpa kecuali dengan meletakkannya pada timbangan syariat. Seorang penyair mengatakan : ” Syariat adalah timbangan semua permasalahan dan saksi ata akar masalah dan pokoknya”5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan itu adalah penyakit. Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan ada obatnya. Tidaklah musibah terjadi melainkan ada penyelesaiannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, kita harus melawan rasa bosan yang terkadang timbul saat kita belajar. Belajarlah sampai Anda mendapatkan nikmatnya ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Menilai Baik Diri Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah merasa bangga apabila dipuji dan merasa senang apabila mendengar oranglain memujinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah TA’ala berfirman : ”Maka janganlah kamu merasa dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tidak Mengamalkan Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Mengamalkan Ilmu merupakan salah satu sebab hilangnya keberkahan ilmu. Allah Ta’ala benar-benar mencela orang yang melakukan ini dalam firmanNya : ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan (QS.Ash-Shaff : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Putus Asa dan Rendah Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman : “Dan Allah mengeluarkankamu dari perut ibumu dlam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan danhati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl : 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putus Asa dan Rendah Diri adalah salah satu penghalang ilmu. Semua manusia dicptakan dalam keadaan sama yang tidak mengetahui sesuatupun. Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan menghapal, lambat membaca atau cepat lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itumenjauhi maksiat adalah sebab paling utama dalammenguatkan hapalan dan memperoleh ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Terbiasa Menunda-Nunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf bin Asbath rahimahullah mengatakan : ”Muhammad bin samurah pernah menulis surat kepadaku sebagai berikut : ” Wahai saudaraku janganlah sifat menunda-nunda menguasai jiwamu dan tertanam di hatimu karena ia membuat lesu an merusak hati. Ia memendekkan umur kita, sedangkan ajal segera tiba… Bangkitlah dari tidurmu dan sadarlah dari kelalaianmu! Ingatlah apa yang telah engkau kerjakan, engkau sepelekan, engkau sia-siakan, engkau hasilkan dan apa yang telah engkau lakukan. Sungguh semua itu akan dicatat dan dihisab sehingga seolah-olah engkau terkejut dengannya dan engkau sadar dengan apa yang telah engkau lakukan, atau menyesali apa yang telah engkau sia-siakan.”6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Belajar kepada Ahlul Bid’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar pada ahlul bid’ah karena ahlul bid’ah merasa ridha terhadap sesuatu yang menyelisishi agama Allah, seolah-olah ia mengatakan bahwa Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Tergesa-gesa ingin memetik buah ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya memperoleh ilmu, karena belajar adalah proses seumur hidup. Terutama yang berkaitan dalam masalah agama tidak cukup dilakukan dlam waktu satu atau dua tahun belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Yahya bin Abi Katsir rahimahullah mengatakan,”Ilmu tidak bisa diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Madini rahimahullah mengatakan,”Dikatakan kepada Imam As-Sya’bi ’Darimana Anda peroleh semua ilmu ini?’ Beliau menjawab,’Dengan tidak bergantung pada manusia, menjelajahi berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati, dan berpagi-pagi mencarinya seperti pagi-paginya burung gagak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari : Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga, karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pustaka At-Takwa : 1428 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;Hadist Shahih, diriwayatkan oleh ahmad, abu Dawud, attirmidzi, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban [↩]&lt;br /&gt;hadist shahih riwayat Al-Bukhari [↩]&lt;br /&gt;hadist shahih riwayat Thabrani [↩]&lt;br /&gt;HR.Bukhari-shahih [↩]&lt;br /&gt;Ishlaahul Masaajid minal Bida’ wal Awaa’id hal.110, karya al-Allamah Muhammad bin Jamaluddin al-Qasimi rahimahullah [↩]&lt;br /&gt;dari Iqtida al-Ilmi al’amal [↩]&lt;br /&gt;http://jilbab.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S2GVqxvulJI/AAAAAAAACvw/O0NcR844Qtg/s1600-h/mAULID.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S2GVqxvulJI/AAAAAAAACvw/O0NcR844Qtg/s400/mAULID.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431787187726095506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Subhanalloh, siapapun yang pernah membuka lembaran- lembaran sejarah, niscaya akan mengetahui bahwa penggagas acara perayaan maulid ini adalah orang-orang Bathiniyyah dari daulah Ubaidiyyah Fathmiyyah di Mesir. Merekalah yang dikatakan oleh Imam Al Ghozali: "Mereka menampakkan diri sebagai orang syiah rofidhoh, padahal sebenarnya mereka adalah murni orang kafir."&lt;br /&gt;&lt;!-- more --&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Inilah yang dikatakan oleh para ulama' dan sejarawan, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Maqrizi dalam Al Khuthoth 1/280, Al Qolqosynadi dalam Shubhul Asya 3/398, As Sandubi dalam Tarikh Ihtifal bil Maulid him : 69, Muhamad Bukhait al Muthi'i dalam Ahsanul Kalam him : 44, Ali Fikri dalam Muhadlorot beliau him : 84 serta Ali Mahfudz dalam Al 'Ibda' him : 126 serta masih banyak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Kalau ada yang masih mempertanyakan : Bukankah tidak hanya seorang ulama' yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah seorang raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil?&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Maka kami katakan :  Ini adalah sebuah pendapat yang bathil sebagaimana yang dinukil oleh para ulama' tadi. Sisi kebatilan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam Al Ba'its 'ala inkaril bida' wal hawadits him : 130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad Al Mula, dan dia-lah orang yang pertama kali melakukannya, hal ini juga disebutkan oleh Sibt ibnul Jauzi dalam Mir'atuz Zaman 8/310, sedangkan Umar Al Mula ini adalah salah seorang pembesar shufiyyah, maka tidaklah mustahil kalau syaikh Umar Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sisi lainnya, harap dketahui bahwa sebuah hukum syar'i tidak bisa didasarkan hanya karena ini pernah dilakukan oleh seseorang, siapapun dia, bukan alim maupun raja, serta bukan orang jahil maupun rakyat jelata. Oleh karena ini dengan anggapan benar bahwa beliau penggagas acara ini, namun ini bukan berarti menunjukkan kebolehannya. Adapun keberadaan beliau sebagai orang yang sholih, maka Wallohu a'lam hanya Alloh yang mengetahui hakekat dirinya, hanya saja Yaqut Al Hamawi (beliau adalah salah seorang sejarawan yang hidup sezaman dengan raja Mudhoffar) dalam Mu'jamul Buldan 1/138 berkata : "Sifat raja ini banyak kontradksi, dia sering berbuat dholim, tidak memperhatikan rakyatnya serta senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar. (Lihat Al Maurid fi 'amalil Maulid oleh Al Fakihani dengan tahqiq Syaikh Ali -yang tercetak dalam Rosa'il fi hukmil Ihtifal bil Maulid An Nabawi 1/8)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sedangkan Sholahuddin al Ayyubi adalah seorang yang dikenal gigih dalam membela madzhab ahlus sunnah serta yang serta gigih dalam berusaha menghancurkan kekuatan Bathiniyyah di Mesir tersebut. Dan orang-orang Ubaidiyyah sangat membencinya, beberapa kali mereka berniat membunuhnya.Lalu kenapa hakekat dan fakta ini sampai negeri ini terbalik? subhanalloh, hanya kepada Alloh jualah kita adukan luka lara dan duka nestapa hati ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Datangnya bulan Robi'ul awal, membawa warnaa tersendiri bagi kaum musmin Indonesia dan bahkan dunia, berbagai acara dan kegiatan di adakan demi memperingati hari kelahiran Rosululloh, berbagai symbol yang diklaim demi untuk mengekspresikan cinta pada Rosululloh tersebut sekaan-akan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan muslim anak negeri, bahkan tanggal itu sampai-sampai menjadi hari libur Nasional.'&lt;br /&gt;Apakah memang demikian cara mencintai Rosululloh? apakah semua ini pernah diajarkan oleh Rosululloh? apakah para sahabat beliau pernah melakukannya, padahal mereka adalah orang yang paling cinta dan rela berkorban demi beliau? lalu apakah pandangan para ulama' islam terhadap acara ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;105 Ribu Orang Hadiri Tabligh Akbar Di Istiqlal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ffff;"&gt;Bersama Syaikh Prof. Dr. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S1qQ0FnyP1I/AAAAAAAACtg/tucj_Jd1Pto/s1600-h/istiqlal1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 128px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S1qQ0FnyP1I/AAAAAAAACtg/tucj_Jd1Pto/s200/istiqlal1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429811525285199698" /&gt;&lt;/a&gt;JAKARTA–Sebanyak 105 ribu orang menghadiri acara Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah Syaikh Prof. Dr. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr. Ketua Panitia Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah, Abu Abdurrahman Sapta mengatakan, tabligh akbar tersebut merupakan tabligh akbar yang terbanyak yang dihadiri jamaah. “Sebab pada tabligh akbar yang pernah diselenggarakan sebelumnya yakni pada tahun 2004 dan 2006 hanya dihadiri sekitar 35 ribu orang. Sehingga saat ini merupakan tabligh akbar terbesar,” katanya di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad ( 17/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah jamaah yang melonjak tiga kali lipat, kata Sapta, disebabkan masyarakat sudah familiar dengan Syaikh Rozzaq karena beliau sering mengisi acara ceramah di Radio Rodja 756 am yang isinya seputar dakwah Islam, kedalaman ilmu beliau sebagai Guru Besar Jurusan Aqidah di Universitas Islam Madinah, dan isi ceramahnya yang sesuai dengan kehidupan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema yang dalam tabligh akbar ini, terang Sapta, adalah sebab-sebab datangnya kebahagian. “Tema tersebut sangat cocok dengan kondisi dan kehidupan masyarakat. Kita lihat masyarakat masih bingung mencari hakikat kebahagian.Mereka juga mempunyai orientasi kehidupan duniawi. Padahal semakin dunia dikejar yang datang adalah kegelisahan. Orang-orang banyak yang merasa tidak tentram, takut kematian, hubungan dengan keluarga tidak harmonis. Selain itu masyarakat juga banyak mengalami musibah seperti musibah ketidaktrentaman dan masyarakat tidak harmonis,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat, ujar Sapta, juga banyak yang salah dalam melihat kebahagiaan. ” Mereka mencari kebahagiaan dengan mencari harta sebanyak mungkin. Sehingga banyak timbul berbagai masalah, seperti korupsi atau mencari harta hingga lupa diri dan melalaikan anak-anaknya yang perlu mendapatkan bimbingan. Sehingga anak-anak banyak yang kurang terarah hidupnya karena kurang perhatian,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari tabligh akbar ini, kata Sapta, memberikan pemahaman kepada masyarakat se-Jabodetabek tentang paradigma yang benar mengenai kebahagiaan. “Kebahagiaan sebenarnya tidak hanya diukur dengan pencapaian material. Namun pencapaian spiritual itulah yang penting. Dengan demikian harta akan mengikuti karena sebenarnya harta itu mengikuti ibadah dan semua yang memberikan itu adalah Allah SWT. Jika orang ingin bahagia maka harus mempelajari Al Qur,an dan Hadist,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan acara tabligh akbar ini, terang Sapta, diharapkan umat Muslim semakin bersatu. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa Nabi pernah bersabda akan terjadi banyak perpecahan pada akhir zaman.”Namun Nabi selalu mengingatkan solusi dari masalah itu adalah kembali kepada Sunnah Rasul. Semua petunjuk sudah ada dalam Al Qur,an dan Hadist. Namun harus dipahami dengan pemahaman yang betul,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara ini, ujar Sapta, secara kuantitatif tidak ada target. “Kami hanya berusaha menyampaikan hal yang baik kepada khalayak. Namun rupanya dengan tampilnya Syaikh Rozzaq, ulama yang disegani di dunia, bahkan beliau ulama yang mendapat gelar profesor paling muda, ayahnya juga ulama yang disegani, ternyata jamaah yang datang melebihi perkiraan yang semula hanya 35 ribu orang,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya acara tabligh akbar dicintai masyarakat, kata Sapta, sehingga pihaknya berencana mengadakan acara tersebut setahun sekali dengan mendatangkan para ulama dari Timur Tengah. “Kami merasa perlu memberikan contoh kepada masyarakat dengan apa yang disebut ulama. Sebab masyarakat kita sangat mudah menganggap seseorang itu ulama. Padahal orang yang mereka sebut ulama tersebut kehidupannya sering tidak sesuai nilai-nilai Islam. Dan Syaikh Rozzaq merupakan contoh ulama yang pas karena beliau tawaduk, cinta ibadah, shalat malam hampir tak pernah ketinggalan,menghormati orangtuanya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat yang sama, Kepala Humas Panitia Acara Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah, Achmad Rizal menambahkan, dengan adanya tabligh akbar tersebut, masyarakat diharapkan menjadi lebih dekat dengan ulama mereka untuk bertanya mengenai hal-hal yang menyangkut masalah dunia dan akhirat. “Sebab ulama merupakan para pewaris ilmu Nabi dan dengan imu orang bisa mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan yang dialami dalam acara ini, ujar Rizal, adalah masalah fasilitas. “Sebab orang yang hadir banyak sekali. Sehingga terjadi banyak antrian parkir, antrian toilet, dan sounds sistem yang kurang memadai. Semoga hal ini menjadi catatan positif bagi pihak pengelola Masjid Istiqlal supaya melakukan sejumlah perbaikan yang dianggap perlu. Semoga kami juga bisa melakukan kerja sama yang lebih baik lagi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, kata Rizal, dengan acara ini umat Muslim bisa terdorong untuk mencapai kemajuan yang tentu harus diraih dengan ilmu dan diiringi dengan amaliah soleh sesuai petunjuk Nabi. “Jangan sampai berilmu dan beramal tidak sesuai petunjuk Nabi. Selain itu, kita harus yakin kemajuan akan tercapai seperti pada masa Khulafaur Rasyidin di mana Islam mencapai kekuasaan hingga mencapai timur dan barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menimba ilmu dari ulama-ulama yang mempunyai pemahaman benar sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in , tiga generasi awal Islam yang harus dicontoh. Dengan pemahaman yang sama umat muslim tidak akan terpecah-pecah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://www.republika.co.id/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760459828676510215-1427985873563429019?l=abqowy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abqowy.blogspot.com/feeds/1427985873563429019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760459828676510215&amp;postID=1427985873563429019&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default/1427985873563429019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default/1427985873563429019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abqowy.blogspot.com/2010/01/info-kajian.html' title='Info'/><author><name>Tak Ada yang Lebih Baik Di Balik Gulita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_korR8Bn1CmY/S3oisOPuRlI/AAAAAAAACFE/j0mprjWsfOE/s72-c/Kaj+LBA+k.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760459828676510215.post-523627927884462835</id><published>2010-01-22T01:31:00.047+07:00</published><updated>2010-02-09T10:03:59.759+07:00</updated><title type='text'>Download</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S3DPpOb1J_I/AAAAAAAACwo/9exCjMRN8zU/s1600-h/Logo+SuaraQuran2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 298px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S3DPpOb1J_I/AAAAAAAACwo/9exCjMRN8zU/s320/Logo+SuaraQuran2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436073057392601074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;KAJIAN DISINI ADALAH PRODUKSI RADIO SUARAQURAN SOLO, DIBAGIKAN SECARA GRATIS. MOHON JANGAN DIKOMERSIALKAN ATAU DIPERBANYAK KECUALI SEIZIN PIHAK RADIO. SEMOGA BERMANFAAT, JAZAKUMULLOH KHOIRON&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;1.LEMBUTNYA DA'WAH AHLUSSUNNAH UST ZAINAL ABIDIN LC&lt;br /&gt;MASJID AL KARIM PABELAN SURAKARTA 26Des09&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.4shared.com/file/204526095/a0927e4c/_2__INDAHNYA_ISLAM_UST_ZAINAL_.html"&gt;SIDE A&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.4shared.com/file/204526063/ce69c7b6/_2__INDAHNYA_ISLAM_UST_ZAINAL_.html"&gt;SIDE B&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ccffff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;2. Dauroh Tahsin Asatidzah Tahfidz&lt;br /&gt;Ma'had Al Ukhuwah Sukoharjo 14 dan 23 Desember 2009&lt;br /&gt;A. Hari Pertama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/202058500/6613fccb/Makhroj_sesi01_ust_arif_syarif.html"&gt;Majlis 1&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/202058510/7f08cd8a/Makhroj_sesi02_ust_arif_syarif.html"&gt;Majlis 2&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/202058490/b6132db5/Makhroj_sesi03_tanya_jawab_ust.html"&gt;Majlis 3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;br /&gt;B. Hari Kedua&lt;br /&gt;Majlis 1 &lt;br /&gt;Majlis 2 &lt;br /&gt;Majlis 3 &lt;br /&gt;Majlis 4&lt;br /&gt;Majlis 5 &lt;br /&gt;Majlis 6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ccffff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;3. Kajian Shohih Bukhory Ust Kholid Syamhudi&lt;br /&gt;Masjid Jami' Al Utsaimin PP Al Ukhuwah Sukoharjo 2009&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/203636210/65f6b135/01_Kajian_Sohih_Bukhori_13_Nop.html"&gt;Bagian 1&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.4shared.com/file/203484414/f607510f/02_Kajian_Sohih_Bukhori_20_Nop.html"&gt;Bagian2&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.4shared.com/file/203484484/27c5ea46/03_Kajian_Sohih_Bukhori_27_Nop.html"&gt;Bagian3&lt;/a&gt;   &lt;a href="http://www.4shared.com/file/203635732/adb0df9e/04_Kajian_Sohih_Bukhori_11_des.html"&gt;Bagian4&lt;/a&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/203635636/ab1f71b0/05_Kajian_sohih_bukhori_18_des.html"&gt;Bagian5&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.4shared.com/file/203635562/d343ffb5/06_Kajian_Sohih_Bukhori_25_des.html"&gt;Bagian6&lt;/a&gt;    &lt;a href="http://www.4shared.com/file/203635446/e7da3319/07_Kajian_Sohih_Bukhori_8_jan_.html"&gt;Bagian7&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/203635397/203c6b47/08_Kajian_Sohih_Bukhori_22_jan.html"&gt;Bagian 8&lt;/a&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/203635307/f1fed00e/09_Kajian_Sohih_Bukhori_12_feb.html"&gt;Bagian9&lt;/a&gt;    &lt;a href="http://www.4shared.com/file/203635258/1df453ed/10_Kajian_Sohih_Bukhori_19_feb.html"&gt;Bagian 10&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.4shared.com/file/203634941/c9da528c/11_Kajian_Sohih_Bukhori_26_feb.html"&gt;Bagian 11&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.4shared.com/file/203635011/3c0fa23/12_Kajian_Sohih_Bukhori_19mar0.html"&gt;Bagian 12&lt;/a&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/203634821/9e429f3d/13_Kajian_Sohih_Bukhori_26mar0.html"&gt;Bagian 13&lt;/a&gt;Bagian 14   Bagian 15  Bagian 16   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;Bagian 17  Bagian 18  Bagian 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;VIDEO ASATIDZAH&lt;/p&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/GISIqXBTSSk&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/JIRdHZubIZU&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/G9155Gnbu08&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.metacafe.com/fplayer/yt-MQiERDPyIUw/ust_abu_haidar_khotbah_jumat_181209_amsterdam_part_3.swf" width="400" height="345" wmode="transparent" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" name="Metacafe_yt-MQiERDPyIUw"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a href="http://www.metacafe.com/watch/yt-MQiERDPyIUw/ust_abu_haidar_khotbah_jumat_181209_amsterdam_part_3/"&gt;Ust.Abu Haidar - Khotbah Jum'at 181209 Amsterdam(Part 3)&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://www.metacafe.com/"&gt;For more funny videos, click here&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760459828676510215-523627927884462835?l=abqowy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abqowy.blogspot.com/feeds/523627927884462835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760459828676510215&amp;postID=523627927884462835&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default/523627927884462835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default/523627927884462835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abqowy.blogspot.com/2010/01/download-kajian.html' title='Download'/><author><name>Tak Ada yang Lebih Baik Di Balik Gulita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S3DPpOb1J_I/AAAAAAAACwo/9exCjMRN8zU/s72-c/Logo+SuaraQuran2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8760459828676510215.post-7463695870773192195</id><published>2010-01-22T01:31:00.045+07:00</published><updated>2010-01-31T22:23:20.624+07:00</updated><title type='text'>Artikel</title><content type='html'>KERANCUAN PARA AKTIVIS HARAKAH&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S2Wez2BGhVI/AAAAAAAACwI/XLiDPOeBvW0/s1600-h/kepalan-tangan-.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 227px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S2Wez2BGhVI/AAAAAAAACwI/XLiDPOeBvW0/s320/kepalan-tangan-.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5432923139003024722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ustadz Abdurrahman bin Thayyib as-Salafi, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali dilontarkan kepada kami sebuah syubhat (kerancuan) dari para aktivis harokah yang selalu mengembar-ngemborkan jihad dengan senjata melawan Amerika dan sekutu-sekutunya serta untuk memberontak pemerintah. Syubhat yang mereka kira sebuah dalil qoth'i yang setara dengan Al-Qur'an dan sunnah, bahkan mungkin lebih dari itu. Mereka kumandangkan syubhat itu untuk menguatkan ambisi mereka mengajak umat berbondong-bondong keluar berjihad dengan senjata mengikuti pemimpin-peminpin gerakan bawah tanah mereka, tanpa mau menoleh lagi kepada para ulama yang darah dan dagingnya bersatu dengan ilmu agama ini. Bahkan mereka tidak segan-segan lagi menuding para ulama robbaniyyin sebagai antek-antek yahudi dan menuduh para pembawa bendera syariat, pewaris para nabi sebagai penggembos jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta." (QS. Al-Kahfi : 5).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syubhat yang selalu mereka bawa adalah ucapan ulama salaf yang mereka tidak memahaminya dengan benar, yang mereka anggap dapat menguatkan pemikiran sesat mereka. Memang begitulah adat dan kebiasaan ahli bid'ah dan kelompok-kelompok sesat, mereka mengambil dalil yang sekiranya (secara sepintas) bisa melegalkan kesesatan mereka, tapi meninggalkan dalil-dalil yang lebih jelas dari matahari di siang bolong. Simaklah kerancuan mereka dan jawaban kami berikut ini dengan mata dan hati yang terbuka! Semoga Allah menguatkan yang hak dan membasmi yang batil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Syubhat harokah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus kembali kepada para mujahid yang turun dimedan perang dalam permasalahan agama bukan kepada para ulama yang hanya bisa berfatwa di masjid-masjid, karena ulama salaf seperti Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hambal dan Sufyan bin Uyainah pernah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsughur, karena kebenaran ada bersama mereka. Allah ta ala berfirman yang artinya " Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat "Majmu' fatawa" oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 28/442 dan tafsir Al-Qurthubi 13/325 tentang ayat diatas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jawaban atas kerancuan harokah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sepintas orang yang membaca dan mendengar syubhat mereka ini akan takjub dan mengacungkan jempol. Tapi marilah kita cermati bersama apa maksud ucapan ulama salaf tersebut. Apakah yang dimaksud dengan mujahidin dan ahli tsughur? dan bagaimana penafsiran para mufassirin tentang ayat diatas? apakah sesuai dengan yang mereka inginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jawabannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika membawakan ucapan Abdullah bin Mubarok dan Imam Ahmad serta Sufyan bin Uyainah tersebut, dalam rangka pembahasan masalah tawakkal dan sabar yang amat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama bagi yang ingin berjihad (mengangkat senjata). Kedua hal tersebut termasuk dalam bagian jihadnya seorang hamba terhadap hawa nafsunya.[1] Inilah teks ucapan beliau: " Allah ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;"Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS.Al-Ahzab : 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memerintahkan untuk mengikuti apa yang telah diwahyukan-Nya dari Al-Qur'an maupun sunnah dan agar bertawakkal kepada-Nya. Yang pertama berkaitan dengan "hanya kepada Engkaulah kami beribadah" dan yang kedua berkaitan dengan "hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". Hal ini serupa dengan ayat yang lainnya "Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya" (QS. Huud : 123) dan "Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (QS. Huud : 88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini meskipun diperintahkan dalam segala keadaan, namun hal tersebut lebih ditekankan lagi pada waktu jihad (mengangkat senjata-pent) dikarenakan perlu untuk memerangi orang-orang kafir dan munafik. Dan hal tersebut tidak bisa sempurna kecuali dengan pertolongan (kekuatan) dari Allah. Oleh karenanya, jihad merupakan tulang punggung amal yang terkumpul di dalamnya semua puncak amal perbuatan. Di dalamnya juga terdapat puncak kecintaaan (kepada Allah-pent), sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta ala:&lt;br /&gt;"Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela." (QS. Al-Maidah : 54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya juga terdapat puncak tawakkal dan kesabaran, karena seorang yang berjihad adalah orang yang paling membutuhkan kesabaran dan tawakkal. Oleh karena itu Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal." (QS. An-Nahl : 41-42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan "Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa"." (QS. Al-A'raaf : 128)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, kesabaran dan keyakinan yang merupakan dasal tawakkal mengharuskan terciptanya kepemimpinan dalam agama, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. " (QS. As-Sajdah : 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan oleh karenanya, jihad menghasilkan hidayah yang meliputi segala pintu ilmu, seperti yang telah Allah firmankan:&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanyalah, berkata dua orang imam Abdullah bin Mubarok dan Ahmad bin Hambal dan selain keduanya : "Apabila manusia berselisih dalam suatu perkara maka kembalilah engkau kepada ahli tsaghor, karena kebenaran ada bersama mereka. Allah ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat "Majmu' fatawa" 28/441-442)&lt;br /&gt;Dari ucapan Syaikhul Islam ini ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran berharga, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Wajibnya mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah dalam segala keadaan&lt;br /&gt;B. Wajibnya tawakkal kepada Allah dan menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya.&lt;br /&gt;C. Wajibnya melewati tahapan-tahapan jihad sebelum tahapan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata, seperti tawakkal dan sabar yang merupakan jihad terhadap hawa nafsu yang terbagi menjadi empat tingkatan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelas bagi kita bahwa yang dimaksudkan oleh para ulama salaf tersebut dengan ucapan mereka "Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsugur…." adalah:&lt;br /&gt;Orang-orang yang telah sukses melewati tahapan-tahapan jihad (jihad melawan hawa nafsu) yaitu para ulama Robbaniyyin[2] dan bukan orang-orang yang di medan perang seperti anggapan mereka, sebagaimana hal ini dikuatkan oleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Imam Qurthubi ketika menafsirkan ayat 69 dalam surat Al-Ankabut diatas berkata:&lt;br /&gt;"Maksudnya memerangi orang-orang kafir[3] dijalan kami, yaitu dalam mencari keridhoan kami, As-Sudi dan selainnya berkata: "Ayat ini turun sebelum turunnya kewajiban berperang (mengangkat senjata-pent)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Athiyah berkata:&lt;br /&gt;"Ayat ini turun sebelum adanya jihad (mengangkat senjata-pent), dan sebenarnya ayat ini umum dalam agama Allah dan dalam mencari keridhoan-Nya." [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Hasan bin Abil Hasan:&lt;br /&gt;"Ayat ini untuk ahli ibadah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas dan Ibrahim bin Adham berkata:&lt;br /&gt;"Ayat ini diperuntukkan bagi mereka yang beramal dengan ilmu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sulaiman Ad-Daarooni berkata:&lt;br /&gt;"Jihad yang dimaksud oleh ayat tersebut bukanlah perang melawan orang-orang kafir saja, tapi maksudnya menolong agama, membantah orang-orang yang batil/sesat, membasmi orang-orang yang zalim dan puncaknya adalah amar ma'ruf nahi mungkar. Dan termasuk juga, melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah yang merupakan jihad terbesar….." [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir tentang ayat tersebut:&lt;br /&gt;"Mereka adalah orang-orang yang beramal dengan ilmu, maka Allah memberi hidayah kepada mereka terhadap hal yang tidak mereka ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sulaiman Ad-Daarooni berkata:&lt;br /&gt;"Tidak selayaknya bagi yang diberi ilham akan suatu kebaikan untuk dia mengamalkannya sampai dia mendengar atsar (riwayat dari Nabi atau para salaf-pent). Jika dia sudah mendengar atsar, maka bolehlah dia mengamalkannya dan memuji Allah, sehingga hal tersebut mencocoki apa yang ada dalam dirinya" (Tafsir Qur'anil 'Adzim 3/555).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- Syaikh Abdurrohman As-Sa'di berkata tentang tafsir ayat diatas:&lt;br /&gt;"Mereka adalah orang-orang yang berhijrah di jalan Allah dan memerangi musuh-musuh-Nya serta mengerahkan segala kekuatan untuk mencari keridhoan-Nya"&lt;br /&gt;dan beliau berkata:&lt;br /&gt;"Ayat ini menunjukkan bahwa manusia yang lebih berhak dengan kebenaran adalah ahli jihad (tapi jangan tergesa-gesa dahulu, apa maksud Syaikh dengan jihad disini ? -pent). Ayat ini juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang melaksanakan perintah Allah dengan baik, maka Allah akan menolong dan memudahkan jalannya mendapat hidayah. Dan ayat ini juga menerangkan bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama, maka dia akan mendapatkan hidayah serta pertolongan dalam menggapai harapannya yang diluar kekuatannya serta dipermudah mendapatkan ilmu. Karena sesungguhnya menuntut ilmu agama termasuk jihad fii sabilillah, bahkan dia termasuk salah satu bentuk jihad yang tidak dapat dilaksanakan kecuali oleh orang-orang khusus. Bentuk-bentuk jihad itu adalah jihad dengan ucapan lisan melawan orang-orang kafir dan munafik serta jihad dalam mengajarkan ilmu agama serta membantah orang-orang yang menyelisihi kebenaran meskipun mereka adalah muslimin." (Tafsir Al-kariimir Rohman hal.747)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-'Abbad -hafidzahullahu- berkata:&lt;br /&gt;"Jihad melawan hawa nafsu merupakan pondasi jihad, yang dengannya seorang hamba bisa menggapai hidayah dan bisa menang terhadap para musuh, Allah ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-'Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata:&lt;br /&gt;"Allah mengkaitkan hidayah dengan jihad, maka orang yang sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah jihad melawan diri sendiri, hawa nafsu, setan dan dunia. Barangsiapa yang berjihad diatas empat tahapan ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah untuk mencapai keridhoan-Nya hingga sampai kesurga-Nya. Barangsiapa yang meninggalkan jihad maka sirnalah hidayah sesuai dengan kadarnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Junaid:&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsunya dijalan Kami dengan bertaubat, maka sungguh Kami akan menunjukkan jalan-jalan keikhlasan". (Al-Fawaaid hal.109 dan Al-quthuuful Jiyaad min hikami wa ahkaamil jihaad hal.8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5- Ayat Al-Qur'an yang berbunyi:&lt;br /&gt;"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS. Al-Anbiya' : 7 dan An-Nahl : 43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrohman As-Sa'di berkata tentang ayat ini:&lt;br /&gt;"Keumuman ayat ini menjelaskan akan pujian terhadap para ahli ilmu dan yang tertinggi adalah ilmu tentang Al-Qur'an, karena Allah memerintahkan kepada yang tidak tahu untuk kembali kepada para ahli ilmu/ulama dalam setiap kejadian. Hal ini juga mengandung pengertian akan adanya rekomendasi bagi para ulama yang dijadikan sebagai rujukan dalam bertanya. Dan orang jahil tidak termasuk dalam hal ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan:&lt;br /&gt;"Didalam pengkhususan bertanya hanya kepada para ahli ilmu terdapat larangan untuk bertanya kepada orang yang sudah terkenal akan kebodohannya…" (Tafsir Al-Kariimir Rohman hal. 511 dan 605)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi siapa saja yang bisa dikategorikan sebagai ulama maka merekalah tempat rujukan dalam agama baik dikala perpecahan maupun tidak, yaitu mereka yang paham benar Al-Qur'an dan sunnah sesuai pemahaman salafush sholeh. Dan tidak ada dalam Al-Qur'an maupun sunnah pengkhususan tempat rujukan haruslah ulama yang pernah turun dimedan perang. Seandainya yang mereka ucapkan itu benar, maka berapa banyak ulama yang tidak layak untuk dijadikan rujukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua Imam empat pernah turun di medan jihad mengangkat senjata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Imam Bukhori, Muslim dan yang lainnya layak dijadikan rujukan dalam agama dikala perselisihan (terutama masalah jihad) sedang mereka tidak pernah turun dimedan perang mengangkat senjata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikalangan para sahabat yang paling terkenal dengan jihadnya dimedan perang adalah Kholid bin Walid , tapi apakah para salaf dahulu lebih mendahulukan beliau dalam masalah agama daripada Abdullah bin Abbas yang termasuk sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadits?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang layak dijadikan rujukan adalah para ulama (bukan ulama jadi-jadian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6- Firman Allah ta'ala:&lt;br /&gt;"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." (QS. An-Nisa' : 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7- Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' : 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata:&lt;br /&gt;"yang dimaksud (ulil amri) adalah para ahli ilmu agama, yang selalu taat kepada Allah dan mengajarkan manusia ilmu agama. Yang amar am'ruf serta nahi mungkar. Allah pun mewajibkan para hamba untuk mentaati mereka" (Lihat Tafsir Thobari 5/149) Ibnu Katsir mengatakan : "yang nampak -wallahu a'lam- bahwa makna ulil amri mencakup umaro'/pemimpin maupun ulama" (Tafsir Al-Qur'anil Adzim 1/518).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8- Dan masih banyak lagi nash-nash atau ucapan salaf yang menjelaskan tingginya martabat dan kedudukan para ulama dan kewajiban untuk kembali kepada mereka dalam setiap keadaan dan tidak harus yang turun dimedan perang. Coba lihat "Qowaa'id fit ta aamul ma'al ulama" oleh Syaikh Abdurrohman bin Mu'alla Al-Luwaihiq -hafidzahullahu-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, yang dimaksud oleh para ulama salaf dalam ucapan mereka "Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsughur, karena kebenaran ada bersama mereka" adalah para ulama (Thoifah manshuroh)(6) yang paham Al-qur'an dan sunnah bukan seperti anggapan mereka, karena tidak mungkin kebenaran bisa diketahui kecuali dengan menuntut ilmu agama dari para ulama. Hal ini berlainan dengan keyakinan sesat tasawwuf yang menyatakan bahwa ilmu bisa diperoleh lewat mimpi, kasyf (penyingkapan), maupun wangsit (ilmu laduni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keyakinan Tasawwuf ini juga diadopsi oleh sebagian kelompok sesat "Jamaah Tabligh" yang malas menuntut ilmu agama tapi sudah lancang berdakwah keseluruh dunia dengan hujjah ilmu bisa diperoleh di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan mereka (para aktivis harokah) ini timbul akibat:&lt;br /&gt;"Penuhnya otak mereka dengan semangat yang membara untuk mengangkat senjata, meski tidak diiringi oleh pemahaman agama yang benar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga mereka ngawur dalam berjihad dan membantai orang-orang tak bersalah. Mereka mengira dengan mengebom Islam akan menjadi jaya seperti semula, meskipun kebanyakan kaum muslimin banyak yang tidak mengerti akan agama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kami nasehatkan dari lubuk hati yang terdalam kepada mereka yang telah terjerumus kedalam jaring-jaring terorisme, para gerakan bawah tanah, aktivis harokah untuk takut kepada Allah dan agar belajar lebih dalam tentang Islam dengan pemahaman yang benar, pemahaman salaf (bukan Khowarij) dan untuk kembali kepada para ulama semisal Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-Albani, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dan lain-lain -hafidzahumullahu-, agar kalian bisa membedakan mana jihad yang benar dan jihad yang palsu, siapa itu mujahid dan siapa teroris? Siapa yang layak dibunuh dan mana yang haram dibunuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya tutup dengan ucapan ulama salaf Imam Al-Barbahari dalam "Syarhus Sunnah":&lt;br /&gt;"Perhatikanlah (Wahai saudaraku) -rahimakallahu- setiap orang yang engkau dengar ucapannya (dalam agama-pent) dari orang-orang yang sezaman denganmu khususnya. Janganlah engkau tergesa-gesa menerimanya hingga engkau melihat, apakah ada seorang sahabat atau seorang ulama yang berbicara seperti itu!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lht artikel "Jihad Dalam Islam" khususnya dlm bagian jihad thd hawa napsu. Sblm membaca "Kerancuan Para Aktivis Harokah" selayaknya pembaca memahami terlebih dahulu pembahasan "Jihad Dalam Islam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lht pembahasan tahapan jihad melawan hawa napsu di "Jihad Dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Dan memerangi org kafir itu bkn hanya dg senjata tetapi jg dg ilmu &amp;amp; hujjah sbgmn yg difirmankan Allah Ta'ala: "Maka janganlah kamu mengikuti org2 kafir, dan berjihadlah thd mereka dg Al-Qur'an dg jihad yg besar." (QS Al-Furqan: 52). Ibnu Abbas berkata: "Dengan Al-Qur'an seperti yg dinukilkan oleh Imam Ath-Thobari dlm tafsirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Dan dari ucapan Ibnu Athiyah di atas jelaslah kesalahan sebagian org yg memahami setiap kata "jihad" dlm nash2 syari'at hanya dg makna jihad mengangkat senjata saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Ucapan ini menguatkan apa yg dijelaskan oleh Ibnu Qayyim tentang tahapan2 jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;TAHDZIR ULAMA KIBAR TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR [MEMBOIKOT] DAN MENTABDI’ [MEMBID'AHKAN]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S2Badzd7sVI/AAAAAAAACvA/r9dodlHyTnI/s1600-h/jari.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 288px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S2Badzd7sVI/AAAAAAAACvA/r9dodlHyTnI/s320/jari.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431440618687279442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FATWA Asy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan -hafidhahullahu- berkata saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/69) sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diantara kerusakan-kerusakan perpecahan yang demikian ini adalah mengakibatkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, disebabkan disibukkannya mereka satu dengan lainnya dengan mentajrih (mencela) dengan gelar-gelar yang buruk. Tiap-tiap mereka menghendaki memenangkan diri mereka dari yang lainnya dan merekapun menyibukkan kaum muslimin dengan perihal mereka. Yang mana hal ini menjadi melebihi mempelajari ilmu yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya banyak dan banyak dari para penuntut ilmu yang bertanya sampai kepada kami bahwa semangat dan kesibukan mereka hanyalah memperbincangkan manusia dan kehormatan mereka, baik di majelis-majelis maupun perkumpulan mereka, sembari menyalahkan ini dan membenarkan itu, memuji ini dan menyatakan itu sesat… Tidaklah mereka ini disibukkan melainkan hanya memperbincangkan manusia..”&lt;br /&gt;Syaikh al-Allamah ditanya saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/57) sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;::&lt;/strong&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;“Apa pendapat yang mulia tentang merebaknya celaan-celaan baik yang tertulis maupun yang didengar yang merebak di kalangan para ulama?? Tidakkah Anda memandang bahwa duduknya mereka untuk diskusi adalah lebih mulia?? Karena betapa banyak aturan-aturan islam yang rusak karena hal ini!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;“Para ulama yang mu’tabar (dikenal keilmuannya) tidak ada pada diri mereka sedikitpun dari apa yang disebutkan dalam pertanyaan. Mungkin hal ini terjadi diantara para penuntut ilmu dan pemuda yang bersemangat, kami memohon hidayah dan taufiq Allah untuk mereka. Kami menyeru mereka untuk meninggalkan perbuatan tercela ini dan supaya mereka saling bersaudara di atas kebajikan dan ketakwaan, serta mengembalikan kepada para ulama terhadap perkara-perkara yang mereka sulit menentukan kebenarannya, dan agar mereka -para ulama- menjelaskan kepada mereka mana yang benar, dan supaya mereka tidak memberikan pengaruh pada fikiran dengan syubuhat sehingga mereka berpaling dari manhaj yang benar. Namun, janganlah difahami dari hal ini, meninggalkan bantahan terhadap kesalahan dan penyimpangan yang terdapat di sebagian buku-buku termasuk bagian nasehat bagi ummat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ditanya pula saat pengajian Aqidah dan Dakwah (III/332) sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;::Pertanyaan.&lt;br /&gt;“Syaikh yang mulia, apakah nasehatmu bagi para pemuda yang meninggalkan menuntut ilmu syar’i dan berdakwah kepada Allah dengan menceburkan dirinya ke dalam masalah perselisihan diantara pada ulama tanpa ilmu dan bashirah??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;“Aku nasehatkan kepada seluruh saudara-saudaraku dan khususnya para pemuda penuntut ilmu agar mereka menyibukkan diri dengan menuntut ilmu yang benar, baik di Masjid, sekolah, ma’had maupun di perkuliahan. Agar mereka sibuk dengan pelajaran-pelajaran mereka dan apa-apa yang bermashlahat bagi mereka. Dan supaya mereka meninggalkan menceburkan diri kepada perkara ini -perselisihan ulama-, dikarenakan tidak ada kebaikannya dan tidak bermanfaat masuk ke dalamnya… hanya membuang-buang waktu saja dan merisaukan fikiran…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal ini termasuk penghalang amal shalih, termasuk mencela kehormatan dan menghasut kaum muslimin. Wajib bagi kaum muslimin umumnya dan para penuntut ilmu khususnya, supaya meninggalkan perkara ini dan agar mereka mengupayakan perdamaian (ishlah) semampu yang mereka bisa. Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah kedua golongan saudara kalian tersebut, bertakwalah kepada Allah semoga engkau dirahmati.” (al-Hujurat : 10). Terhadap orang-orang yang anda lihat melakukan kesalahan, maka wajib bagi anda menasehatinya dan menjelaskan kesalahnnya secara empat mata, dan memohon kepadanya agar ia mau rujuk (kembali) kepada kebenaran. Inilah yang dibutuhkan nasehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Hafidhahullahu berkata saat pengajian Dhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat takfir wa Dhawabithuha, sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karena itu, wajib bagi para pemuda Islam dan penuntut ilmu untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat dari sumbernya dan dari ahlinya yang dikenal akan keilmuannya. Kemudian setelah itu, mereka akan tahu bagaimana berbicara dan bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena Ahlus Sunnah dulu maupun sekarang mampu menjaga lisannya dan mereka tidaklah berucap melainkan dengan ilmu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;FATWA Syaikh Muhammad Al Utsaimin -Rahimahulloh- &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Syaikh al-Imam Faqihuz Zaman, al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rahimahullahu- berkata saat Liqo`ul Babil Maftuh (Pertemuan terbuka) no 1322, sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salafiyyah adalah ittiba’ terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum salaf seluruhnya menyeru kepada Islam dan bersatu di atas Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka tidak menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya karena perkara takwil/penafsiran yang berbeda, Allahumma, kecuali dalam perkara aqidah, dikarenakan mereka berpandangan bahwa siapa-siapa yang menyelisihinya dalam perkara aqidah, maka telah sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan manhajnya dengan menyesatkan setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan hal ini sebagai manhaj hizbiyah sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Dikatakan, ‘lihatlah kepada madzhab salafus shalih, apa yang mereka perbuat di dalam jalan mereka dan kelapangan dada mereka pada perkara khilaf yang memang diperbolehkan ijtihad di dalamnya, sampai pada taraf mereka berselisih di dalam perkara aqidah dan ilmu. engkau dapati mereka, misalnya, mengingkari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Rabbnya dan sebagian lagi menetapkannya, ada lagi yang berpendapat yang ditimbang pada hari kiamat nanti adalah anak dan sebagiannya berpendapat lembaran-lembaran amal-lah yang ditimbang ÃµEngkau dapati pula mereka berselisih di dalam masalah fiqhiyah, baik dalam masalah nikah, faraidh, iddah, jual beli dan lain-lain. Walaupun demikian, mereka tidak saling menyesatkan satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membeda-bedakan dan menyesatkan selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau ikut sakit.’ [Hadits Riwayat Muslim], maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;FATWA Syaikh  Muhammad Nashirudin al-Albani -Rahimahullah-&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh kami yang mulia, al-Muhaddits al-Ashr al-Mujaddid al-Faqih Muhammad Nashirudin al-Albani -Rahimahullah- di dalam kaset Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shouthiyah no 784 side A, sebagai berikut :&lt;br /&gt;“Syuf (perhatikan) wahai saudaraku! Aku menasehatkanmu dan para pemuda lainnya yang berada di jalan munharif (menyeleweng) sebagaimana tampak pada kami, wallahu a’lam, untuk tidak membuang-buang waktumu untuk mencela satu dengan lainnya dan sibuk dengan mengatakan fulan begini dan fulan berkata begitu. Dikarenakan, pertama, hal ini tidaklah termasuk ilmu sama sekali, dan yang kedua, uslub (cara) ini akan merasuk ke dada dan menyebabkan kedengkian serta kebencian di dalam hati. Wajib atasmu menuntut ilmu!!! Karena ilmulah yang akan menyingkapkan apakah perkataan ini yang mencela Zaid atau fulan dari manusia dikarenakan dirinya memiliki banyak kesalahan, apakah berhak bagi kita untuk menyebutkan shohibul bid’ah atau mubtadi’ ataukah tidak?? Apa yang harus kita lakukan dengan mendalami perkara ini?? Aku tidak menasehatkanmu untuk mendalami seluruh perkara ini dengan benar-benar, karena hakikatnya kita sekalian sedang mengeluhkan perpecahan ini yang terjadi di tengah-tengah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) pada dakwah al-Kitab dan as-Sunnah, atau sebagaimana kita menyebutnya, Dakwah Salafiyah.!!!&lt;br /&gt;Perpecahan ini, wallahu a’lam, penyebab utamanya adalah dorongan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (an-Nafsul ammarah bis suu`) dan bukanlah perselisihan pada sebagian pemikiran. Inilah nasehatku. karena telah sering aku ditanya, ‘apa pendapatmu tentang fulan?’, dan aku langsung faham bahwa ia (penanya) orang yang memihak atau memusuhi. dan terkadang orang yang ditanyakan adalah diantara saudara-saudara kita terdahulu yang dikatakan dia menyimpang, maka kami bantah penanya tersebut, apa yang engkau inginkan terhadap fulan dan fulan??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlaku luruslah sebagaimana engkau diperintahkan! Tuntutlah ilmu! Dengan ilmu engkau akan dapat memilah-milah mana yang thalih dan mana yang shalih, mana yang bathil dan mana yang haq.!!! Kemudian janganlah engkau ini mendengki terhadap saudara seislam dikarenakan ia jatuh kepada beberapa kesalahan. Kami tidak mengatakan salah, namun kami katakan ia menyimpang dalam satu, dua atau tiga perkara, dan perkara lainnya ia tidak menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapati para Imam Ahli Hadits yang menerima haditsnya (orang yang menyimpang) dan disebutkan di dalam riwayatnya ia khariji atau murji`i atau lainnya. Ini semua adalah aib dan kesesatan, namun diperoleh pada timbangan tersebut yang mereka berpegang teguh padanya. Kita tidak menimbang beratnya keburukannya dari kebaikan-kebaikannya atau dua atau tiga keburukannya terhadap banyaknya kebaikannya, dan yang terbesar adalah syahadat Laa ilaaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh juga berkata tentang definisi siapakah mubtadi’ itu di dalam kaset Silsilah Huda wa Nur ash-Shouthiyah no 785 side B, sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bermanfaat untuk menunjukkan contoh dari terjatuhnya seorang alim kepada bid’ah tidaklah serta merta menjadikannya mubtadi’ dan jatuhnya seseorang kepada perbuatan haram, dengan pernyataan memperbolehkan apa-apa yang diharamkan secara ijtihad, tidak serta merta menjadikannya sebagai pelaku keharaman. Saya katakan, atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwasanya ia dulu berdiri menasehati manusia pada hari Jum’at sebelum sholat, berfaidah untuk menunjukkan contoh yang shahih, bahwa bid’ah yang terkadang terjatuh kepada seorang alim, tidaklah dengan demikian ia menjadi seorang mubtadi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk ke jawaban yang lengkap, aku katakan, al-Mubtadi’ adalah berawal dari kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama, dan tidaklah orang yang mengada-adakan bid’ah, walaupun ia mengamalkannya bukan karena ijtihadnya, namun dari hawa nafsunya, tidak serta merta dikatakan dia mubtadi’!! contoh terjelas yang paling dekat dengan perkara ini adalah, seorang hakim yang dhalim yang terkadang berlaku adil pada sebagian hukum-hukumnya, tidaklah bisa disebut hakim adil, sebagaimana pula seorang hakim yang adil yang terkadang melakukan kedhaliman di sebagian hukum-hukumnya, tidaklah dinamakan dirinya hakim dhalim. Hal ini berkaitan erat dengan kaidah fiqh islami yang menyatakan bahwasanya seorang manusia dilihat dari banyaknya kebaikan atau keburukannya. Jika kita telah mengetahui hakikat ini, maka kita dapat mengetahui siapakah mubtadi’ itu. maka, dengan demikian disyaratkan bagi mubtadi’ dua hal, yaitu pertama, dia bukanlah seorang mujtahid namun hanyalah pengikut hawa nafsu dan kedua, dia menjadikan bid’ahnya sebagai kebiasaan dan agamanya.”&lt;br /&gt;[Dinukil dan di alih bahasakan oleh Abu Salma bin Burhan dari kutaib Aqwalu wa Fatawa Ulama fi tahdzir 'ala Jama'atil Hajr wat Tabdi']&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SEKITAR PEMBOIKOTAN DAN PEMUTUS HUBUNGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Redaksi Majalah Al-Asholah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hajr (pemboikotan) termasuk manhaj yang mendasar dari manhaj ahli Sunnah Wal Jama’ah – pengikut salaf dan ahli hadits – untuk membantah orang-orang yang menyelisihi, sebagai sangsi terhadap ahli bid’ah [1], dan menghina kesalahan serta menolak kebingungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala manhaj ini didirikan di atas tonggak yang kokoh, dan pondasi yang kuat, yaitu Al-wala’ (berloyalitas) di antara orang-orang mukmin dan Al-baro’ (berlepas diri) dari orang-orang yang sesat dan menyimpang (dari Agama), maka haruslah meletakkan manhaj ini pada posisinya, tanpa mencampuradukkan di antara sebab-sebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa-masa terakhir dari kehidupan kaum muslimin ini tampak di medan amal islami, gambaran yang aneh dan jauh dari Islam. Gambaran itu adalah tahazzub (berpartai-partai), bergolong-golongan dan berkelompok-kelompok kecil. Hal ini menjadikan pemegang manhaj ini (manhaj tahazzub) membuat dasar-dasar kaidah yang khusus untuk menjaga struktur dan keberadaan mereka. Dan untuk mengikat dan memelihara anggota-anggota mereka dari pemikiran-pemikiran yang masuk ke dalam kelompok mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan melihat mereka, yang tidak mengijinkan anggota-anggotanya untuk bermajlis dengan penuntut-penuntut ilmu. Jika mereka mengijinkan, mereka membatasi anggota-anggotanya dengan batasan-batasan yang ketat. Apa bila mereka melihat perubahan pada pemikiran-pemikiran anggota-anggotanya, maka mereka pun melarang anggota-anggotanya itu untuk kembali datang ke majlis orang-orang yang memberi teguran tersebut (penuntut-penuntut ilmu tadi). Jika anggota-anggotanya bersikukuh (bersikeras untuk datang ke majlis tersebut), maka mereka mengeluarkan instruksi-instruksi untuk pemutusan hubungan dan hajr (pemboikotan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalah ini kami tidak mendiskusikan masalah hizbiyyah (fanatisme golongan) dari akar-akarnya, - sebab sudah ada tulisan-tulisan yang khusus membahasnya [2]- akan tetapi kami ingin melirikkan pandangan ke sekelompok manusia yang mencampuradukkan antara manhaj yang benar dengan manhaj yang bersifat terorisme di dalam masalah pemboikotan dan pemutusan hubungan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya… Kami mengatakan terorisme, karena manhaj ini berdiri di atas teror pemikiran, yang tidak membiarkan sentuhan (kritikan) sekecil apapun terhadap salah seorang dari tokoh-tokoh yang diagungkan di kalangan mereka. Apakah sentuhan (kritikan) itu dengan kebenaran yang terang atau dengan kebatilan yang buruk. Maka dua hal ini tidaklah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara gambaran pemutusan hubungan dengan cara bathil (tidak sah) ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sebagian orang menulis suatu tulisan atau buku, yang mana di dalamnya dia mengkritik suatu pemikiran, atau memperingatkan suatu kesalahan atau membenarkan suatu manhaj, maka hal tersebut menjadi pembuka pintu pergulatan pemutusan hubungan dari mereka, terhadap orang yang mengkritik dengan kebenaran ini. Sampai-sampai, miskipun yang mengkritik itu dari ahli sunnah dan para da’inya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pintu-pintu pun tidak dibukakan untuknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan perkataan dan kedustaan pun disebarkan terhadap dirinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tombak-tombak makar dan tuduhan pun dilontarkan ke dadanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan buku-buku dan tulisan-tulisannya dilarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dia dihalangi dari rekan-rekannya dari kalangan da’i dan penuntut ilmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan manusia pun diperingatkan (ditahzir) dan dijauhkan dari dirinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini merupakan manhaj yang jauh dari bersihnya persaudaraan islam dan jernihnya kejujuran kasih sayang syar’i. Bahkan itu merupakan pukulan terhadap intisari ukhuwah islamiyah, karena Nabi Muhammad - sholallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : “ Sekuat - kuat tali keimanan itu adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah “ [3]. Karena, perbuatan tersebut merupakan cinta terhadap individu-individu dan benci karena pemikiran semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapankah pilihan ummat ini – mereka adalah para da’i – akan tetap menjadi tawanan (dikuasai) loyalitas hizby yang dibenci !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapankah para da’i ini akan keluar dari jurang yang dalam yang mereka menjatuhkan diri mereka sendiri ke dalamnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapankah kaum muslimin akan bebas dari belenggu pengagungan individu-individu serta pengkultusannya, supaya mereka bisa terangkat dengan diri mereka sendiri menggapai ketinggian kebenaran dan petunjuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengira sesungguhnya manhaj pemutusan hubungan yang baru lagi tercela ini, mengingatkan kita akan gambaran pergulatan yang lama antara (keluhuran) ahli ra’yi bersama ahli hadits. Dan mengembalikan kita ke ring tipu muslihat (kezoliman) orang Asy’ari terhadap orang Hanabilah pada masa abad pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Misk Khitam (kata penutup dari majalah) pada kesempatan kali ini merupakan jalan untuk perbaikan dan kemajuan, demi melangkah ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Alih bahasa Muhammad Elvi Syam, Lc]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah Al-Asholah, -diterbitkan di Jordan – edisi perdana, 15 – Rabi’utsani – 1413 H. hal ; 79. Team redaksi : Syaikh Salim Ied Hilaali, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, Syaikh Muhammad Musa Nashr, Syaikh Masyhur Hasan]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Untuk mengetahui dalil-dalil secara terperinci lihat kitab : “ Hajrul-mutadi’ “ oleh Syeikh Bakr Abu Zaid, dan kitab “ Al-Hajr fi dhau-ilkitab was-sunnah “ oleh saudara Masyhur Hasan&lt;br /&gt;[2]. Seperti : “ Hukmul-intima’ “, oleh syeikh Bakr Abu Zaid, dan “ Al-ahzaabus-siasiyah fil-islam “, oleh Syeikh Shofyur-rahman Almubarakfuri, dan Ad-da’wah ilallahi baina at-tajamu’il-hizbi wa at-ta’awunis - syar’i “, oleh saudara Ali Hasan&lt;br /&gt;[3]. Hadits shohih, ditakhrij di dalam kitab “ Silsilah Al-ahadits As-shohihah “ (1728) Sumber: www. almanhaj.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S1h6f27Tn5I/AAAAAAAACrg/HQPJwNp3MVs/s1600-h/imtihan-ilmu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S1h6f27Tn5I/AAAAAAAACrg/HQPJwNp3MVs/s320/imtihan-ilmu.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429224038533930898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasihat Para Salafush Sholih Akan Pentingnya Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa atsar yang berisi nasehat dan keterangan akan pentingnya ilmu dan mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.” (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardiy, hal.48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau apabila melihat para pemuda giat mencari ilmu, beliau berkata: “Selamat datang wahai sumber-sumber hikmah dan para penerang kegelapan. Walaupun kalian telah usang pakaiannya akan tetapi hati-hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumah-rumah (untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr, 1/52)&lt;br /&gt;Yakni bahwasanya sifat mereka secara umum adalah sibuk dengan mencari ilmu dan tinggal di rumah dalam rangka untuk mudzaakarah (mengulang pelajaran yang telah didapatkan) dan mempelajarinya. Semuanya ini menyibukkan mereka dari memperhatikan berbagai macam pakaian dan kemewahan dunia secara umum demikian juga hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang kurang manfaatnya dan hanya membuang waktu belaka seperti berputar-putar di jalan-jalan (mengadakan perjalanan yang kurang bermanfaat atau sekedar jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas) sebagaimana yang biasa dilakukan oleh selain mereka dari kalangan para pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga:&lt;/span&gt; Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pelajarilah oleh kalian ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah khasy-yah; mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbiih; membahasnya adalah jihad; mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri kepada Allah; karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah, dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani di saat berada di tempat yang asing; dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan menghiasainya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.&lt;br /&gt;Dengan ilmu tersebut Allah akan mengangkat kaum-kaum lalu menjadikan mereka berada dalam kebaikan, sehingga mereka menjadi panutan dan para imam; jejak-jejak mereka akan diikuti; perbuatan-perbuatan mereka akan dicontoh serta semua pendapat akan kembali kepada pendapat mereka. Para malaikat merasa senang berada di perkumpulan mereka; dan akan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya; setiap makhluk yang basah dan yang kering akan memintakan ampun untuk mereka, demikian juga ikan yang di laut sampai ikan yang terkecilnya, dan binatang buas yang di daratan dan binatang ternaknya (semuanya memintakan ampun kepada Allah untuk mereka). Karena sesungguhnya ilmu adalah yang akan menghidupkan hati dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari berbagai kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba akan mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik dan derajat-derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat.&lt;br /&gt;Memikirkan ilmu menyamai puasa; mempelajarinya menyamai shalat malam; dengan ilmu akan tersambunglah tali shilaturrahmi, dan akan diketahui perkara yang halal sehingga terhindar dari perkara yang haram. Ilmu adalah pemimpinnya amal sedangkan amal itu adalah pengikutnya, ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berbahagia; sedangkan orang-orang yang celaka akan terhalang darinya.” (Ibid. 1/55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat:&lt;/span&gt; Dari ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan dia mempunyai dosa-dosa seperti gunung Tihamah, akan tetapi apabila dia mendengar ilmu (yaitu mempelajari ilmu dengan menghadiri majelis ilmu), kemudian dia menjadi takut, kembali kepada Rabbnya dan bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak mempunyai dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkan majelisnya para ulama.” (Miftaah Daaris Sa’aadah, karya Al-Imam Ibnul Qayyim, 1/77)&lt;br /&gt;Dan beliau juga berkata: “Wahai manusia, wajib atas kalian untuk berilmu (mempelajari dan mengamalkannya), karena sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai selendang yang Dia cintai. Maka barangsiapa yang mempelajari satu bab dari ilmu, Allah akan selendangkan dia dengan selendang-Nya. Apabila dia terjatuh pada suatu dosa hendaklah meminta ampun kepada-Nya, supaya Dia tidak melepaskan selendang-Nya tersebut sampai dia meninggal.” (Ibid. 1/121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima:&lt;/span&gt; Berkata Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku mempelajari satu masalah dari ilmu lebih aku cintai daripada shalat malam.” (Ibid. 1/122)&lt;br /&gt;Bukan berarti kita meninggalkan shalat malam, akan tetapi ini menunjukkan bahwa mempelajari ilmu itu sangat besar keutamaannya dan manfaatnya bagi ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keenam:&lt;/span&gt; Dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullaah, beliau berkata: “Sungguh aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu aku mengajarkannya kepada seorang muslim di jalan Allah (yaitu mempelajari dan mengajarkannya karena Allah semata) lebih aku cintai daripada aku mempunyai dunia seluruhnya.” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab, karya Al-Imam An-Nawawiy, 1/21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketujuh:&lt;/span&gt; Dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah, beliau berkata: “Tidak ada sesuatupun yang lebih utama setelah kewajiban-kewajiban daripada menuntut ilmu.” (Ibid. 1/21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bait-bait sya’ir yang menjelaskan tentang permasalahan ilmu dan kedudukannya itu sangat banyak dan tidak bisa dihitung, dan di sini hanya akan disebutkan dua di antaranya:&lt;br /&gt;“Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahlul ilmi (orang-orang yang berilmu) karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk bagi orang yang meminta dalil-dalilnya dan derajat setiap orang itu sesuai dengan kebaikannya (dalam masalah ilmu) sedangkan orang-orang yang bodoh adalah musuh bagi ahlul ilmi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sya’irnya Al-Imam Asy-Syafi’i:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا وَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ&lt;br /&gt;وَإِنَّ كَبِيْرَ الْقَوْمِ لاَ عِلْمَ عِنْدَهُ صَغِيْرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلَيْهِ الْجَحَافِلُ&lt;br /&gt;وَإِنَّ صَغِيْرَ الْقَوْمِ إِنْ كَانَ عَالِمًا كَبِيْرٌ إِذَا رُدَّتْ إِلَيْهِ الْمَحَافِلُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan tidaklah orang yang berilmu seperti orang yang bodoh. Sesungguhnya suatu kaum yang besar tetapi tidak memiliki ilmu maka sebenarnya kaum itu adalah kecil apabila terluput darinya keagungan (ilmu). Dan sesungguhnya kaum yang kecil jika memiliki ilmu maka pada hakikatnya mereka adalah kaum yang besar apabila perkumpulan mereka selalu dengan ilmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadur dari kitab Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi hal.18-22, Wallaahul Muwaffiq, Wallaahu A’lam. Sumber : http://akhwat.web.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8760459828676510215-7463695870773192195?l=abqowy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abqowy.blogspot.com/feeds/7463695870773192195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8760459828676510215&amp;postID=7463695870773192195&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default/7463695870773192195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8760459828676510215/posts/default/7463695870773192195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abqowy.blogspot.com/2010/01/artikel-ilmiyyah.html' title='Artikel'/><author><name>Tak Ada yang Lebih Baik Di Balik Gulita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sTEAhWMKQjc/S2Wez2BGhVI/AAAAAAAACwI/XLiDPOeBvW0/s72-c/kepalan-tangan-.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
